AKU BANGGA JADI ANAK PETANI
Kami adalah
keluarga yang hidup sederhana, dan aku bangga punya Bapak yang mampu
menyekolahkan anaknya. Anak-anak hebat yang punya mimpi hasil didikan seorang
petani.
Selalu aku
ingat adalah jasa-jasa, sikap, perjuangan, dan ketulusannya yang tiada batas. Bapakku
memang hanyalah seorang petani biasa, bahkan mungkin hanyalah seorang buruh
tani. Kalau sedang beruntung ayahku juga menjadi petani penggarap. Tugasnya menggarap
sawah milik seorang tuan tanah di kampungku. Bapakku tak memiliki sawah ataupun
lahan. Satu-satunya sawah yang sering dikelola oleh Bapak adalah sawah warisan.
Seperti petani
yang lain Bapak selalu berangkat pagi-pagi, setelah melaksanakan sholat subuh.
Waktu Perjalanan dari rumah ke sawah ditempuh setengah jam dengan berjalan
kaki.
Yang menjadi
ingatan sampai saat ini, waktu itu aku berangkat sekolah, dan Bapak berangkat
kesawah. Bapak dan aku sama-sama jalan kaki, kami memang tidak berangkat
bersama. Namun di pinggir jalan raya ketika aku berjalan menuju sekolah,
aku melihat Bapak di pinggir pematang sekitar kurang lebih 130m dariku, sedang
berjalan membawa cangkul dan peralatan lainnya. Hatiku terenyuh. Aku
terpikir. Aku berjalan dengan membawa pena dan buku, pergi ke sekolah SLTP di
Kecamatan, bebanku pun ringan. Sementara di sana Bapak berjalan dengan cangkul
yang berat dan alat-alat pertanian lainnya. Kalau aku yang membawanya sendiri.
Aku berjalan untuk menulis dan bertemu dengan teman-temanku dalam suasana
riang. Sementara Bapak berjalan untuk mencari nafkah. Bergelut dengan panasnya
sinar matahari. Bergulat dengan lumpur-lumpur sawah yang penuh dengan kotoran
dan air menghitam tanpa mengenal lelah.
Akupun
teringat, kalau semasa kecil Bapak tidak merasakan bangku sekolah SLTP seperti
aku jalani. Bapak hanya sempat mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat, itu pun
dengan penuh jerih payah. Sedangkan aku bisa sekolah dari SD hingga tamat (sekarang telah lulus SLTA) sama halnya
dengan teman-temanku lainnya. Aku memiliki dua bersaudara kakakku laki-laki
sudah berkeluarga dikaruniai putri satu yang cantik adalah sebagai seorang
pekerja biasa, sedangkan adikku perempuan masih kecil.
Dari sana aku
pun sadar, bahwa aku dibesarkan dari hasil bertani. Aku bahagia ketika aku
bertani, berada di sawah. Hari-hariku aku habiskan dengan sawah. Tentunya
karena aku teringat Bapak yang seorang petani. Saat itulah aku berfikir jika
setamat SLTA ingin untuk melanjutkan belajar di sebuah perguruan tinggi
pertanian terbesar di negeri ini.
Namun aku
sadar bahwa untuk belajar ke perguruan tinggi tidak semudah yang diangankan,
hingga aku tetap mencari yang terbaik untuk diriku sendiri.
Aku bangga
mempunyai seorang petani seperti Bapak. Ia telah ikut serta mendukung program
pemerintah dalam hal penyediaan pangan (beras dll). Petani Adalah Pahlawan Kehidupan.
Tanpa mereka kita tidak bisa makan. Tanpa mereka kita tak tahu mau makan apa
hari ini.
Ketika melihat
petani, aku selalu teringat Bapak, petani yang kulihat dan Bapak mungkin tidak
jauh berbeda. Bapak sosok yang kuat, gagah, sabar, tahan panas dan kotor.
Cangkul selalu diayunkan untuk mengolah tanah, tanpa menghiraukan apakah
cangkul itu akan mengenai kakinya atau tidak. Terik matahari di siang hari tak
pernah dihiraukan. Tubuh pun hitam karena terbakar oleh sengatan matahari.
Tetapi itulah Bapak, seorang yang berjuang untuk membesarkan anak-anaknya.
Terima kasih BAPAK+IBU!!!. Engkau
telah mengajariku menjadi seorang manusia utuh.
by:lare ndusun tlatah bangon sojokerto